Menu

Hari Pahlawan: Menengok Budaya Membaca Di Kalangan Pelajar

budaya-membaca

                Membaca merupakan suatu cara mendapatkan informasi, wawasan, pengetahuan, bahkan motivasi. Menurut penelitian yang dilakukan di Ohio University, membaca buku membuat seseorang termotivasi dalam menghadapi berbagai macam hambatan dalam hidupnya.

                Sebagai pelajar, tentunya kita tidak dapat lepas dari yang namanya “membaca”. Setiap kegiatan belajar mengajar tidak pernah bisa lepas dari buku, bisa dibilang membaca sudah menjadi makanan sehari-hari seorang pelajar. Jika mengacu pada fakta di atas, mengapa minat membaca di kalangan pelajar masih tergolong rendah?

                “Budaya malas membaca” bisa dikatakan sebagai salah satu penyebabnya. Bagaimana bisa malas dikatakan sebagai suatu budaya? Hal ini bisa disebabkan karena banyak faktor. Mulai dari orang tua yang tidak menanamkan budaya membaca sejak dini pada anak-anak mereka. Mereka cenderung lebih suka membacakan suatu cerita dari pada mengajak anak membaca bersama cerita tersebut. Masalah ini berlanjut ketika mereka masuk ke bangku sekolah. Banyak sekolah yang tidak menyediakan perpustakaan yang memadai. Rata-rata perpustakaan hanya diisi buku pelajaran, tanpa buku cerita, dongeng, novel, maupun buku fiksi lainnya. Padahal, buku-buku fiksi tersebut dapat menjadi senjata yang ampuh untuk meningkatkan budaya membaca di kalangan pelajar. Buku fiksi dianggap lebih menarik dibanding buku-buku lain di kalangan remaja. Nah, hal inilah yang  bisa membuat mereka mulai suka membaca buku dan akan terbiasa untuk selalu membaca dan bahan bacaan bisa terus berkembang ke non-fiksi.

                Kebiasaan malas membaca juga dapat dilihat ketika siswa menghadapi tes maupun ulangan. Cukup banyak siswa yang mengeluhkan nilai yang kurang baik karena mereka tidak teliti saat membaca, mereka cenderung hanya membaca sekilas tanpa benar-benar memahami soal yang dimaksud. Ketika ditanya, mereka akan menjawab jika mereka malas membaca soal tersebut karena dianggap terlalu panjang.

                Tak hanya hal-hal yang terjadi di dunia nyata, kebiasaan malas membaca juga sering ditemui di dunia maya. Tidak semua orang membaca suatu artikel sampai benar-benar habis, mereka cenderung membaca awalnya saja lalu segera mengomentari tanpa benar-benar paham konteks yang dibahas serta maksud dari penulis itu sendiri. Tentu hal ini merupakan dampak buruk yang sudah sering kita temui akhir-akhir ini akibat dari budaya malas membaca.

Ada suatu asumsi bahwa membaca merupakan jantungnya sekolah. Dengan kata lain, ketika kita memasuki dunia pendidikan, membaca merupakan poin utama pembelajaran. Membaca dapat membuka luas pikiran kita untuk lebih tajam dan lebih kritis. Bisa dibilang, jika kita tidak sekolah tapi memang rajin membaca dan dapat membuka pikiran, peluang kesuksesannya lebih besar dibanding mereka yang sekolah namun hanya mengejar nilai tanpa ilmu.

Seharusnya, bagi pelajar membaca jangan dianggap sebagai kewajiban, namun dianggap sebagai cara untuk membuka mata terhadap dunia melalui gagasan dan tulisan.

Sekolah juga perlu menyediakan perpustakaan yang ramah bagi pelajar. Maksudnya, perpustakaan tidak hanya menampung buku-buku pelajaran namun juga dapat menampung buku-buku fiksi maupun buku lain untuk membangkitkan minat membaca bagi siswanya.

Selain itu, perlu juga penanaman kebiasaan membaca sejak dini dari orang tua dan keluarga. Orang tua dapat mengajak anak membaca lewat buku-buku dongeng bergambar yang dapat meningkatkan minat mereka yang dari awalnya melihat-lihat gambar yang ada di buku bingga tertarik untuk membaca tulisan sebagai penjelasan dari gambar tersebut.

Jadi, budaya malas membaca dapat diganti dengan budaya gemar membaca dengan siasat-siasat yang menarik. Karena membaca merupakan salah satu cara untuk mencapai kemajuan suatu bangsa. Semakin banyak pelajar yang gemar membaca, semakin banyak pula pemuda yang memiliki wawasan yang luas serta pemikiran yang kritis. Hal ini tentu saja dapat mendukung perkembangan bangsa Indonesia beberapa tahun kedepan untuk mencetak pelajar yang suka membaca dan berwawasan luas serta dapat memajukan Indonesia di masa yang akan datang.

Mari kita budayakan membaca!

By. Rachelia Devi

 

Tentang Penulis : Rachelia Devi adalah salah satu peserta jurnalistik pelajar yang diadakan oleh Cakep Chapter Solo bekerjasama dengan majalah Smaracatur

Share this Post!

About the Author : Admin Cakep


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP