Menu

Ibu dan Cita-Citanya

ibu-dan-cita-citanya-cakep-indonesia

Oleh: Endah Nur Amalina

Ibu, emak, mama, mami, enyak, umi dan entah apa panggilan kalian kepada wanita yang telah mengandung, melahirkan dan merawat kita hingga kita dapat tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini. Siapa di dunia ini yang tidak punya Ibu? Semua manusia di muka bumi ini punya ibu, kecuali Nabi Adam AS dan istrinya. Seperti yang kita ketahui, Ibu telah banyak berkorban selama hidupnya untuk keluarganya khususnya anak, baik itu anak kandung ataupun anak angkat. Mulai dari mengandung, melahirkan, merawat hingga mengorbankan cita-cita dan waktu luang untuk keluarganya.

Ibu adalah wanita yang semasa mudanya juga memiliki cita-cita. Lantas, apakah ibu kita tetap mengejar cita-citanya atau lebih memilih mengurus rumah tangga? Pertanyaan yang membuat ibu dilema dan butuh pemikiran panjang untuk memutuskannya. Mengapa? Karena setiap pilihan mengharuskannya untuk berkorban. Jika ibu memilih untuk mengejar cita-citanya atau dengan kata lain fokus dengan karirnya, tentu beliau akan kehilangan banyak waktu untuk mengurus rumah, mengajari anak belajar, bermain bersama anak hingga sekedar minum teh bersama ayah. Intinya, ibu akan banyak kehilangan waktu berharga bersama keluarga. Pilihan kedua juga mengharuskan ibu mengorbankan cita-citanya demi mengurus keluarganya.

Berkat Ibu Kartini yang memperjuangkan emansipasi, sekarang ini banyak sekali ibu yang menjadi wanita karir. Bekerja untuk membantu ayah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Biasanya, pekerjaan mengurus rumah, memasak dan sebagainya akan menjadi urusan pembantu rumah tangga yang sekarang akrab disapa asisten rumah tangga. Kelebihan ibu yang menjadi wanita karir antara lain memiliki jiwa sosial yang tinggi dan pandai bersosialisasi. Jiwa sosial yang tinggi tumbuh lantaran selama bekerja ibu bertemu banyak orang dengan berbagai karakternya. Hal inilah yang secara otomatis menjadikan ibu sebagai wanita yang berjiwa sosial tinggi karena terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang dengan berbagai karakter.  Kekurangan ibu yang menjadi wanita karir diantaranya anak kekurangan perhatian Ibu adalah guru pertama dalam masa tumbuh kembang anak. Peran ibu sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat. Jika ibu sibuk dengan karirnya, lantas siapa yang menggantikan peran ibu sebagai agen sosialisasi pertama ini?

Ibumu, ibumu, ibumu dan ayahmu. Begitulah Rasulullah SAW menyebut siapa manusia di dunia ini yang harus dihormati. Betapa mulianya seorang ibu, hingga surga berada dibawah telapak kakinya. Kemuliaan yang luar biasa inilah yang menjadikan mayoritas ibu meninggalkan karirnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi keluarganya. Ibu ingin memberikan seluruh waktunya untuk bersama keluarga tercinta, mengamati fase-fase pertumbuhan anak dan menjadi agen sosialisasi pertama bagi anaknya. Beberapa kelebihan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya antara lain dapat mengamati dan mengawasi masa pertumbuhan anak, perhatian tercurah seluruhnya untuk keluarga, keluarga lebih harmonis dan yang terpenting adalah nilai-nilai yang harus ditanamkan pada anak sejak dini seperti agama dapat ditanamkan dengan sempurna. Sehingga kelak anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik sesuai nilai yang telah ditanamkan ibu semenjak masih kecil. Ibu yang menjadi wanita karir bukan berarti tidak dapat menjalankan perannya sebagai agen sosialisasi pertama, hanya saja mayoritas ibu yang menjadi wanita karir tidak dapat menjalankan perannya ini dengan sempurna, hingga akhirnya banyak anak yang menjadi pelaku kenakalan remaja. Faktanya, pelaku kenakalan remaja banyak yang berasal dari keluarga mampu dan cenderung kaya dengan kedua orangtua yang sibuk bekerja.

Lalu bagaimana dengan ibu yang terpaksa bekerja karena keadaan? Semua telah menjadi takdir Tuhan, telah diskenariokan dan disutradarai oleh-Nya. Manusia tinggal memerankan saja. Tuhan menciptakan keadaan serba kekurangan agar orang yang sedang diuji mampu melewati ujian hidup ini dengan baik, dengan caranya masing-masing. Ibu rela melakukan pekerjaan apapun itu asalkan halal untuk menghidupi keluarganya, sehingga sering kita jumpai supir taksi, kuli bangunan, kuli panggul di pasar yang semuanya adalah perempuan. Hal inilah yang menjadikan sosok ibu menjadi sosok yang selalu istimewa, penuh pengorbanan dan kasih sayang pada keluarganya yang tidak akan pernah luntur walau tergerus oleh waktu.
Sebagai seorang anak yang menjadi provokator kebaikan, kita wajib menjadi anak kebanggan orangtua khususnya ibu. Bagaimana caranya? Cukup dengan menjadi anak yang “peka” terhadap keadaan. Kita harus mampu memahami apa yang sebenarnya menjadi keinginan orangtua kita. Misalnya, ketika ibu sedang menyapu lantai dan kita sedang tidak ada pekerjaan, sebagai anak yang peka kita harus membantu bahkan menggantikan tugas Ibu untuk menyapu lantai. Begitupun untuk keadaan-keadaan yang lebih rumit lainnya. Semoga kita semua menjadi anak yang berbakti pada orangtua dan menjadi kebanggaan orangtua. Aamiin.

Penulis adalah  duta Cakep dari Ponorogo.

Share this Post!

About the Author : Admin Cakep


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP