Menu

Krisis Membaca, Hoax Merajalela

768x432

Pernah ga sih kita merenung, kenapa dunia maya di Indonesia penuh dengan hoax? Fitnah ada dimana-mana, gambar-gambar penuh editan bertebangan atau pemberitaan yang disampaikan cuma secara parsial. Tak jarang hoax yang dihembuskan untuk menjatuhkan lawan saingan. Asal sebuah hoax menjadi viral maka opini masyarakat langsung terbentuk dan mempercayai begitu saja tulisan tersebut. Tanpa klarifikasi dan mencari pembanding lainnya. Barangkali karena definisi kebenaran adalah sesuatu yang paling banyak dipercaya orang, bukan karena fakta dan data sebenarnya.

Menurut saya, ada tiga karakter utama masyarakat Indonesia yang membuat hoax berkembang bak jamur di musim cendawan. Yuuuk dibaca satu persatu dengan teliti, cakepers…

1. Indonesia adalah negara berkembang dengan minat dan budaya membaca rendah. Begitu rendahnya hingga dalam hal kultur membaca, Indonesia terlihat begitu memalukan di antara negara ASEAN lainnya. Ini baru antar-negara ASEAN, belum membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju lainnya. Pokoknya nomer-nomer buntut gitu laaah. Sedih banget ya… kalau tahu betapa-betapanya minat baca warga negara kita.

2. Orang Indonesia memiliki gemar berbagi kepada sesama. Di satu sisi, budaya ini positif adanya. Namun ketika budaya ini dijalankan tanpa pengetahuan dan kebijaksanaan tentang informasi apa saja yang layak atau tidak layak dibagikan kepada orang lain, maka hal ini akan jadi bumerang yang menyerang-balik kita semua. Tadinya bermaksud baik untuk berbagi informasi, malah menyebarkan hoax. Pokoknya mah sebar-sebar aja. Apalagi kalau persepsi dari si pengeshare merasa menjadi orang yang baik karena telah menyebarkan informasi kekinian. Berniat memberikan peringatan tetapi ternyata hanya hoax belaka.

3. Memprihatinkannya kualitas tontonan di berbagai media. Baik media elektronik maupun media sosial memberikan suguhan kurang mendidik kepada masyarakat. Sinetron, reality show dan berita politik serta kriminalitas disajikan begitu saja asal memberikan banyak keuntungan. Asal bisa menaikkan rating, mendatangkan banyak iklan. Kode etik jurnalistik tak lagi diindahkan, hal inilah yang membuat rusaknya etika erta budu pekerti masyarakat. Namun faktanya, masyarakat kita banyak yang tertarik dan serius menontonnya. Tontonan berkualitas rendah inilah yang membentuk mentalitas & cara berpikir instan dalam semua hal, termasuk dalam mencerna berbagai informasi.

Kalau kita liat-liat poin budaya membaca menjadi akar dari segala permasalahan yang tibul. Dampak negatif dari poin kedua dan ketiga dapat berkurang dengan tingginya budaya membaca masyarakat kita. Tahu ga sih? Konon katanya, berdasarkan disurvei secara resmi pada tahun 2016 dalam penelitian yang diadakan oleh Central Connecticut State University dan UNESCO budaya membaca masyarakat Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61. Indonesia berada di bawah Thailand di urutan ke-59, dan di atas Bostwana di urutan ke-61. Sedih banget dengernya yaaa…. Lebih jauh lagi, pada Maret 2017, Menteri Pendidikan & Kebudayaan Indonesia, Bapak Muhadjir Effendy menyatakan, bahwa budaya membaca & tingkat literasi bangsa Indonesia tertinggal setara dengan 4 tahun dibandingkan dengan sejumlah negara maju. Sehingga sudah sangat benderang bagi kita semua, bahwa akar dari banyak masalah yang tengah terjadi di masyarakat Indonesia, termasuk menjamurnya hoax beserta penyebarannya yang “secepat kilat”; sangat berkorelasi dengan betapa parah dan memprihatinkannya budaya membaca serta tingkat literasi masyarakat Indonesia.

Gemar membaca buku-buku dan berbagai referensi berkualitas tinggi akan membuat kita lebih berhati-hati dengan informasi yang didapatkan. Sebelum memutuskan apakah akan meneruskan atau menghentikan persebaran sebuah informasi, mereka yang tinggi tingkat literasi dan budaya membacanya, akan terlebih dahulu melakukan kroscek kebenaran informasi tersebut dari berbagai sumber yang kredibel.

Seletifitas tontonan juga sangat dipengaruhi oleh jenis bacaan kita. Pada dasarnya, banyak orang yang sangat peduli dengan pengembangan dirinya dan begitu banyak membaca, hingga merasa tidak perlu menonton televisi. Lebih ekstrim lagi, beberapa orang bahkan merasa tidak perlu membeli televisi. Namun, bagi mereka yang telah berkeluarga, tentu saja televisi tetap penting untuk hiburan. Biasanya solusi yang mereka tempuh adalah dengan berlangganan program televisi berbayar, agar keluarganya tidak perlu lagi mengkonsumsi siaran televisi lokal yang sarat dengan hal-hal negatif.

Pada tahun 2007 sastrawan besar Indonesia pernah menulis artikel dengan judul Generasi Nol Buku, Rabun Membaca Lumpuh menulis. Coba deh nanti dicari artikel tersebut, pastilah kita akan merasa bahwa budaya membaca adalah sesuatu yang amat penting untuk ditumbuhkan kepada generasi muda. Indonesia darurat membaca. Wahai Cakepers… generasi muda idaman mertua #eh mari kita mulai belajar membaca lagi. Biar ga jadi generasi nol buku yang mudah terserang hoax.

Presiden Cakep Indonesia

Share this Post!

About the Author : Admin Cakep


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP