Menu

Pemuda; Now And Yesterday

pemuda-sumpah

Eh…eh….eh, penduduk Indonesia saat ini mencapai berapa ya? Terus dari sekian jumlah penduduk tersebut, yang usia produktif atau dikategorikan pemuda berapa persen ya? Terus lebih spesifik lagi, dari sekian persen itu yang sukses dan berprestasi berapa ya? Pernah ngitung? Kalau aku si belum? Mikirin si, pernah.

Ternyata, sebuah situs (bisa dicek di sini)  tentang data kependudukan menyatakan bahwa penduduk  Indonesia pada tahun 2016 mencapai sekitar 258 juta orang. Nah, dari jumlah tersebut jumlah penduduk usia 5 tahun hingga 29 tahun sekitar 110, 78 juta atau sekitar 43 %. Dalam situs tersebut dinyatakan bahwa penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif. Pertanyaannya berapa persenkah yang masih punya orientasi dan tujuan hidup, yang sudah sukses, yang berprestasi dan sebaliknya. Sayangnya, belum ada penelitian atau survey mengenai ini, termasuk dalam situs tersebut.

Dunia maya saat ini semakin gayeng perkembangannya. Terbuka dan mengerikan. Tanpa batas. Di lihat dari sisi positif memang perkembangan teknologi ini membantu banget dalam beberapa urusan, namun di sisi sebaliknya seperti monster yang siap melahab siapa saja. Sasarannya siapa? Siapa lagi kalau bukan manusia usia produktif khususnya anak-anak usia sekolah.

Gaes, akhir-akhir ini dampak negatif dari perkembangan dunia maya berasa banget, banyak video tentang pembulian, perkelahian, pornografi dan yang sejenisnya marak beredar. Sedihnya, seakan itu menjadi cerminan kids jaman now negeri ini. Memang si, tidak semua, hanya sebagian saja. Namun, khawatirnya itu akan terus menular. Keburukan itu akan menular kalau tidak punya antibodi alias pertahanan diri yang kuat. Sayang banget kan? Padahal nasib negeri ini ada pada tangan generasi muda.

Menilik sejarah bangsa ini (eaaa mulai cius), di tangan pemudalah akhirnya bisa merdeka dari penjajahan kolonial. Sejarah bangsa ini dimulai bukan dari proklamasi kemerdekaan tahun 1945 tetapi dimulai dari berdirinya organisasi kepemudaan yang diberi nama Boedi Utomo tahun 1908. Dua puluh tahun kemudian lahirlah sumpah pemuda, yang diawali dari konggres pertama satu tahun sebelumnya. Bahkan yang mendesak Soekarno-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan adalah para pemuda. Dulu, belum ada beraneka gadged dan alat canggih lainnya, tetapi mereka sanggup menghimpun pemuda dari beberapa daerah untuk memikirkan nasib bangsa Indonesia selanjutnya.

Hemmmm,…kalau lihat berita viral beberapa waktu ini, yang kasus penangkapan kakak mahasiswa saat demo jadi ingat semangat heroik para pemuda kala itu. Barangkali semangatnya sama, kakak-kakak mahasiswa ingin mengajukan berbagai aspirasinya, ide dan pandangannya terhadap perjalanan pemerintahan. Hanya saja ada beberapa hal yang barangkali tidak sesuai dengan peraturan sehingga aparat harus menangkapnya. Semoga mereka segera dibebaskan ya! Aamiin. Kita ambil sisi semangatnya yang memikirkan nasib negeri ini.

Perjuangan para pemuda jaman dulu, harus tetap hidup di jaman sekarang. Artinya, kita para kids jaman now punya kewajiban untuk melanjutkan perjuangan mereka. Melalui apa? Demo? Ah, tentu saja tidak. Kita punya banyak pilihan untuk melanjutkan perjuangan mereka. Misalnya, berprestasi dalam bidang-bidang tertentu. Berprestasi itu tidak selalu identik dengan lomba, tetapi mempunyai sesuatu yang unik dan bermanfaat untuk banyak orang. Kita bisa menjadi apa saja (maksudnya yang baik-baik lho ya!) sesuai dengan bakat, minat yang kita punya. Ingat, prestasi itu bukan hanya soal akademik yang nyaris sempurna. Membuang sampah pada tempatnya juga termasuk prestasi dan wujud dari melanjutkan perjuangan. Ya, perjuangan untuk menjaga alam. So, prestasi itu banyak macemnya dan melanjutkan perjuangan juga beragam bentuknya.

Pemuda, dulu dan sekarang, memang berbeda. Teknologi telah menuntun manusia untuk terus berkembang dan tentu saja ini menjadi pembeda dengan jaman dulu. Nah, seharusnya dalam urusan berbangsa dan bertanah air juga berbeda yakni lebih heroik dibanding dengan jaman dulu. Kenapa? Karena persaingan antar negara semakin ketat, jika kita masih menjadi pemuda yang biasa saja ya negeri kita bakal jauh tertinggal. Dan tidak menutup kemungkinan negeri ini bakal dijajah kembali. Kalian rela?

Gaes, tidak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan. Tidak ada kata percuma untuk kebaikan mesti itu kecil dan seakan tak terlihat. Tetep bijak menggunakan gadged dan buanglah sampah pada tempatnya. Eh, kok jadi iklan layanan masyarakat!

Salam pemuda, salam perubahan. Salam cakep, salam jempol. Terus berbagi dalam kebaikan biar cita rasanya menyeluruh. Teruslah berprestasi dan mujudkan mimpi negeri.

 

By. Airhein

Share this Post!

About the Author : Admin Cakep


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP