Menu

UAS No Wories

UAS-CAKEP-INDONESIA

Dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, saya berharap apa yang saya tulis dalam tulisan ini bisa membuat anda lebih mempercayai diri anda sendiri.

Bila berbicara mengenai UAS, identik dengan soal dan berbicara mengenai mengerjakan soal, identik juga dengan kata ” mencotek” dan “hasil sendiri”. Semua itu tidak lepas dari seorang pelajar, sebagai pelajar pun kita bisa memilih action apa yang akan mulai “mencontek atau hasil sendiri?”. Mungkin bagi mereka yang memilih untuk menyalin jawaban teman mereka, saya yakin mereka punya alasan sendiri. Alasan yang mungkin sangat mereka takutkan seperti; takut mengulang (remidi), takut mendapat pringkat yang jauh dari angan mereka, takut dianggap bodoh, dan yang pasti mereka takut gagal. Teman, kalaupun kita mengulang (remidi) toh nilai kita diraport tidak mungkin dibawah kriteria kan? Berapapun hasil yang kita peroleh selama itu berasal dari kerja keras sendiri, kita patut bangga akan hal itu, kita harus mampu menunjukkan bahwa “Ini Masterpiece Saya” kepada orang-orang diluar sana. Saya tahu memang tidak mudah melakukan itu semua, saya pun juga tahu yapa ang mereka rasakan. Mungkin kalau hasil yang mereka peroleh sangat tidak memuaskan banyak pihak yang merasa kecewa. Namun, ketika kita merasa ada pihak yang kecewa justru yang jauh lebih, lebih, dan lebih kecewa adalah diri ini. Diri ini yang mungkin tidak mampu berprilaku jujur pada diri sendiri. Sebenarnya kita mampu bahkan sangat mampu hanya saja hawa nafsu yang sulit dikendalikan jauh lebih berkuasa dihati dan fikiran ini, hingga akhirnya kita menggenggam apa yang seharusnya tidak kita genggam, merima yang seharusnya tidak kita terima, memperoleh yang seharusnya tidak kita peroleh, dan masih banyak lagi.

“Lantas, bagaimana cara untuk membentengi diri agar tidak mencontek?” Tanya seorang teman kepada saya. Awalnya saya sangat bingung ingin menjawab apa, karena disaat itu juga saya masih belajar menahan segala hawa nafsu. Memang belajar menahan adalah perkara yang tidak mudah, butuh proses yang lama dan bertahap. Namun, saat itu saya menjawab ” Sabar, karena kunci dari menahan adalah kesabaran. Sabar pun juga ada tingkatannya; sabar SEBELUM melakukan, sabar KETIKA melakukan, dan sabar SESUDAH melakukan.” Contoh spesifiknya, sebelum UAS pastinya kita belajar disitu lah maksud dari kata sabar sebelum melakukan, saat UAS pun kita harus sabar menahan agar tidak mencontek, dan yang terakhir sabar setelah UAS, lebih tepatnya menunggu hasil UAS. Saya menjawab kalimat itu karena memang itu yang saya rasakan, itu yany saya rasakan selama 9 tahun ini menjadi pelajar. Saya masih 15 tahun, jalan saya masih panjang, mimpi saya masih banyak, saya bosan dengan kalimat ” Aku Menyerah” karena dulu memang saya sering mengucapkan kalimat itu. Dan kini saya mengganti kalimat yang sering saya ucapkan itu menjadi ” Aku Mampu, Selama Aku Mau”. Bagaimana dengan kalian? Masiy ingin menyalin jawaban orang lain dan berlindung dibawah ketiak mereka? Teman… mimpi kita masih panjang. Yukk…sama-sama kita menuju revolusi. Dengan langkah awal yang disertai dengan niat yang ikhlas.

By :Evaf EA

evaf-cakep-indonesia

Penulis adalah salah satu duta Cakep dari Madiun, memiliki nama lengkap Evaf Alfayani. Remaja kelahiran 9 September tahun 2000 ini, sekarang masih duduk di kelas IX MTsN Dolopo Madiun.

Share this Post!

About the Author : Admin Cakep


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

  TOP