Menu

WANITA SURGA

bidadari-surga-cakep-indonesiaDi sebuah desa yang cukup besar tinggal sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ibu dan kedua anaknya. Iya, ayah dari kedua anak itu meninggal ketika mereka beranjak dewasa. Ibu itu bernama Aisyah, anak pertamanya laki-laki yang diberi nama Rahmad, dan anak perempuannya bernama Fitri.  Hidup keluarga bu Aisyah sangat sederhana dari mulai rumahnya, pendidikan yang enyam kedua  anaknya, makanan sehari-hari mereka, dan masih banyak hal lagi yang mereka rasakan dengan sederhana. Tapi, ada satu hal yang merekan lakukan tanpa kata sederhana, cara mereka mencintai Allah sangatlah luar biasa. Bu Aisyah mengajarkan kedua anaknya nilai agama sejak dari kecil hingga kedua anaknya tumbuh menjadi orang yang sangat ta’at kepada Rabb-Nya.  Rahmad memang hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah tapi, Rahmad adalah orang yang sangat pekerja keras. Ia rela bekerja paruh waktu demi ibu dan adiknya. Fitri adalah perempuan yang sangat baik, santun, sholihah, dan perempuan dambaan laki-laki.

 

Ketika senja datang Rahmad baru pulang dari pekerjaannya, ia bergegas mandi dan bersegera menuju masjid untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Begitu pulang rahmad menghampiri ibu dan adiknya yang sedang melihat televisi kecil yang sering sekali diservis.

“Assalamu’alaikum, sudah makan semua?” tanya Rahmad kepada ibu dan adiknya.

“Wa’alaikumsalam, tinggal kamu Mad yang belum makan.” Jawab ibu dengan penuh kasih.

”Tadi baru ku buatkan kopi mas, ku taruh diatas meja makan.” Sambung Fitri. Rahmad hanya tersenyum sambil duduk mendekat disamping ibunya yang beranjak tua, ia berkata

“Bu, aku ingin menikah, dalam waktu dekat ini aku akan melamar wanita pilihanku yang insyaallah akan menerimaku dengan segala kekuranganku termasuk akan menyayangi ibu dan Fitri.”

Bu Aisyah sangat terkejut mendengar permintaan restu dari putranya

“Apa kamu yakin ingin benar-benar menikah?”Tanya Sang Ibu.

“Iya, atas restu ibu.” balas Rahmad.

“Menikah bukan sebuah permainan nak, apalagi kamu seorang laki-laki yang nantinya akan menjadi imam untuk keluargamu. Apa kamu juga sudah bertemu dengan keluarganya?” tanya Sang Ibu

“sudah bu, Insyaallah jika ibu mengizinkan tolong lamarkan anakmu ini” pinta Rahmad.

Bu Aisyah tak mampu berkata-kata, beliau hanya mengangguk sambil menangis karena akan melepas anak laki-lakinya.

Melihat anggukan kepala dari sang ibu, Rahmad sangat bahagia sambil mencium tangan ibunya begitu pula Fitri yang turut bahagia mendengar kabar gembira dari kakaknya.

 

Seminggu setelah permintaan restu kepada ibunya, Rahmad menyelenggarakan pernikahan yang sangat sederhana dan dihadiri beberapa tetangganya saja, namun pernikahan Rahmad sangatlah sacral. Ya, sangat sacral hingga bu Aisyah,Fitri, dan Rahmad sendiri hanyut dalam sebuah air mata. Entah itu air mata bahagia atau kesedihan hanya mereka yang merasakan. Setelah pernikahan berlangsung Rahmad pulang dirumah sang istri, Fatimah. Bu Aisyah dan Fitri kini tinggal berdua saja dirumah yang perlahan rapuh. Kini tulang punggung keluarga itu adalah Fitri. Pekerjaan Fitri adalah seorang penjaga took kecil, gajinya memang tak seberapa tapi upah yang diterima Fitri cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan,dan tahun berganti tahun Rahmad dikaruniai seorang Putri cantik yang tumbuh besar dengan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun, hidup Rahmad juga masih sederhana, sang istri mau menerima Rahmad apa adanya dengan segala apa yang ia miliki. Begitu juga Fitri  dan Ibunya yang masih hidup sederhana bahkan sesering mereka hidup kekurangan mengingat Rahmad juga sudah berkeluarga sendiri jadi, tidak mungkin Fitri meminta nafkah dari kakaknya. Seiring berjalannya waktu, Fitri berfikir untuk berkeluarga mengingat umurnya juga sudah tak lagi muda dan teman yang sebaya dengannya pun sudah memiliki beberapa anak. Fitri berikhtiar mencari jodohnya, ia berusaha untuk membuka hati untuk lelaki yang memiliki niat berta’aruf dengannya. Sang ibu juga tidak tinggal diam, bu Aisyah mendatangi rumah para pemuka islam (Ustadz/ustadzah) untuk meminta bantuan beliau agar anaknya dicarikan jodoh yang tepat.

“Assalamu’alaikum.” Salam Bu Aisyah.

“Wa’alaikumsalam.silakan masuk bu Aisyah”Jawab  ustadzah Ana.

“Iya bu,timakasih.”Balas bu aisyah.

“Monggo-monggo ada apa pagi-pagi seperti ini bu aisyah mencari saya? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya ustadzah Ana.

“Begini bu, saya kesini ingin minta bantuan bu ustadzah. Anak saya Fitri, ibu tau kan? dia sudah cukup umur bahkan sudah sangat pantas berkeluarga. Tapi, sampai sekarang dia belum juga dilamar laki-laki bu, “ jelas bu aisyah.

“Iya, lalu apa yang bisa saya bantu untuk anak ibu?” balas bu ustadzah.

“Saya minta tolong sama bu ustadzah untuk mencarikan Fitri laki-laki yang pantas untuk dia, yang sesuai dengan keluarga kami. eee… maksud saya yang bisa menerima Fitri,saya,dan keadaan ekonomi kami bu. Fitri sendiri bilang kepada saya kalau ia tidak minta yang neko-neko cukup laki-laki yang bertanggung jawab dan taat dengan agamanya.” Pinta bu aisyah.

“subhanaallah, insyaallah bu saya akan mencarikan laki-laki yang ibu minta. Tapi, saya tidak menjamin kalau laki-laki yang saya betul-betul pas dengan keinginan anak ibu. Biarkan Fitri dan dan laki-laki yang saya carikan nanti berta’aruf dulu,biarkan mereka bertabayun antara satu sama lain. Bagaimana bu?” tawar bu Ana.

“iya bu, saya sangat setuju biar mereka saling mengenal dulu. Saya tidak mau jika nanti ada kekecewaan diantra mereka berdua.” Jawab bu Aisyah.

“kalau begitu, saya juga akan meminta pertimbangan dari pak kyai (Suami Ustadzah Ana) dulu bagaimana baiknya. Nanti kalau saya sudah menemukan seorang yang pas, saya akan menghubungi bu Aisyah.” Jelas Ustadzah Ana.

“inggih bu, sekali lagi terimakasih atas bantuan dari bu ustadzah.” Balas bu aisyah.

Setelah hari itu, ustadzah Ana  mulai mencarikan laki-laki yang diminta bu Aisyah. Sementara bu Aisyah dan Fitri terus berdoa berharap mendapat jodoh yang dipilih Allah untuknya.

Seminggu berlalu, ustadzah Ana meminta agar bu Aisyah dan Fitri berkunjung ke rumahnya. Sesampainya di rumah ustadzah Ana, terlihat seorang laki-laki muda yang tampan dan terlihat santun.

“Assalamu’alaikum” salam bu Aisyah dan Fitri.

“Wa’alaikumsalam, monggo masuk dan silakan duduk.” Jawab ustadzah. “langsung saja nak Farid, ini adalah bu Aisyah dan putrinya, Fitri. Bu Aisyah,Fitri ini Farid laki-laki yang saya ingin kenalkan kepada bu Aisyah dan Fitri.”

“o, iya bu. Kalau boleh saya ingin langsung bertanya kepada nak Farid, apakah nak Farid mau berta’ruf dengan anak ibu. Anai ibu bukanlah perempuan yang cantik,pintar, apalagi kaya. Anak ibu sangat sederhana, tapi ketahuilah nak, ibu selalu Fitri sesuai dengan ajaran agama.” Jelas dan tanya bu Aisyah. Dengan senyuman santun dan ramah Farid menjawab

“jika ibu bertanya seperti itu, saya juga akan kembali bertanya apakah anak ibu juga mau berta’aruf dengan saya? Saya bukan laki-laki yang tampan ataupun mapan. Keadaan keluarga saya hanya bisa dibilang cukup, pekerjaan saya juga serabutan. Dalam agama jika memilih pasangan hidup kita harus melihat dari agama dan akhlaknya. Jika keduanya sudah bagus insyaallah yang lainnya akan mengikuti.” jawab Farid.

Mendengar jawaban dari Farid hati Fitri leleh seperti es batu yang mencair. Ia merasa bahwa memang Farid lah laki-laki yang selama ini ia cari. Singkat cerita, setelah pertemuan itu  farid dan fitri berta’aruf. Mereka saling mengenal antara satu sama lain, mereka bercerita tentang masa-masa kecilnya hingga sekarang. Merasa sudah saling mengenal mereka berniat menyelenggarakan pernikahan sesegera mungkin.

Pernikahan mereka diselenggarakan dengan sederhana, pernikahan mereka hanya dihadiri keluarga dekat dan para saksi. Terlihat Rahmad dan keluarga kecilnya ikut berkumpul turut dalam kebahagiaan keluarga bu Aisyah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun waktu terasa begitu cepat. Bu Aisyah semakin hari semakin tua ditambah dengan penyakit tuanya, putrid semata wayang Rahmad juga sudah besar, Farid dan Fitri dikaruniani seorang putra yang diberi nama Abdullah. Farid bekerja serabutan, ia kadang bekerja sebagai petani menggarap sawah orang, membuat batu bata, menjadi kuli, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang halal. Suatu hari Farid merasa badannya sangat lemas dan pucat sesekali ia merasa ingin pingsan tapi ia tetap bekerja keras untuk keluarga kecilnya. Farid tak pernah bercerita itu kepada istrinya, karena ia takut melihat istrinya cemas apalagi sampai menangis. Ketika Abdul berumur lima tahun, Fitri dan Farid dikaruniai seorang putra lagi yang diberi nama Hasan. Ketika hasan berumur 15 bulan sang ayah jatuh sakit, kali ini Farid tidak bisa menahan sakit yang ia derita. Fitri sangat khawatir akan hal itu, lalu ia mengantar suaminya pergi ke dokter terdekat dirumahnya. Sesampainya di tempat praktek dokter tersebut Fitri dan suaminyasegera memasuki ruang periksa dan segera menanyakan penyakit apa yang diderita suaminya itu.

“suami saya sakit apa ya dok? Apa sangat parah? Biasanya jika dibelikan obat sudah sembuh lo, tapi kali ini kok tidak.” Tanya Fitri

“begini, jadi suami ibu menderita sakit liver. Saya tidak bisa mengobati secara maksimal karena peralatan disini tidak memadai. Sebaiknya, suami ibu dibawa ke rumah sakit saja.”

Mendengar jawaban dari dokter tersebut Fitri tak mampu berkata-kata, ia terdiam, kaget,sesekali ia menangis dan melamun. Sesampainya di rumah kecil mereka, Fitri langsung bertanya kepada suaminya mengapa selama ini ia tidak bercerita kepadanya tentang penyakit berbahaya ini.

“Kenapa mas tidak bercerita? Aku ini istrimu, seharusnya mas cerita sama Fitri, mas.” Tanya Fitri penuh tangis.

“Aku tak ingin membuatmu sedih, aku ini kepala keluarga. Aku harus kuat, aku harus bisa jadi contoh untuk kalian. Dan yang pasti aku tak ingin melihatmu menangis.” Jawab Farid dengan lembut.

“Tapi, mas bagaimanapun juga kita ini keluarga, kita harus saling terbuka. Sudahlah, mengapa mas tidak bercerita tentang penyakit ma situ sudah tak penting lagi. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan mas.” Jelas Fitri.

Karena keadaan ekonomi keluarga Fitri yang tidak mampu, ia hanya mengandalkan bantuan kesehatan seadanya dari pemerintah. Fitri tak memiliki keluarga lain selain kakaknya namun, Rahmad tidak bisa membantu karena ia sendiri juga kekurangan. Lambat laun sikap Rahmad berubah, seakan-akan ia tak peduli kepada adik perempuan dan ibunya. Keadaan bu Aisyah sekarang pun juga semakin memburuk, ia semakin tua dan pikun.

Fitri merasa punggungnya berat, bukan karena beban barang tapi karena entah bagaimana ia menghadapi ini. anaknya yang masih kecil, suaminya yang sedang sakit keras, ibunya yang juga sakit tua, sementara ia tak punya siapa-siapa untuk dimintai bantuan. Ingin sekali ia bercerita beban ini pada orang lain namun, kepada siapa? Itu yang menjadi pertanyaan untuknya, setiap saat yang menjadi tempatnya bersandar adalah Allah, dia tetap sabar, tabah, ia masih mencari pekerjaan kesana kemari untuk biaya rumah sakit suaminya dan hidup keluarganya. Karena kedua anaknya masih sangat kecil sesekali ia menitipkan anaknya kepada tetangga dekatnya untuk ditinggal bekerja dan menunggu suaminya di rumah sakit. Namun, jika tetangganya tidak bisa membantu ia terpaksa mengajak kedua anaknya ke rumah sakit. Untuk menuju rumah sakit Fitri mengendarai motor sederhana yang dibeli Farid ketika ia masih sehat dulu, Hasan digendong Fitri didepan, sedangkan Abdul duduk dibelakang. Seperti  itulah kegiatan Fitri akhir-akhir ini, sementara Farid semakin hari ia semakin kurus, wajahnya juga masih pucat. Padahal berbulan-bulan sudah ia berada di rumah sakit, dokter mengizinkan Rahmad untuk pulang ia bisa berobat jalan saja. Saat dirumah, Rahmad beraktivitas biasa hanya saja ia tidak bekerja. Terkadang ia hanya mengajak kedua putranya bermain, sementara Fitri bekerja kembali sebagai penjaga toko kecil.

Suatu hari fitri betul-betul tak ingin berangkat kerja, entah mengapa tapi memang ia tidak ingin berangkat. Saat itu Farid terbaring ditmpat tidurnya,sang istri mendekat seraya berkata

“Kamu ingin makan apa mas? Nanti tak beli kan” tawar sang istri

“Tidak, aku tak ingin apa-apa. Tetaplah duduk disebelahku, aku ingin mengenang masa kita bertemu.” Jawab Farid

Mendengar jawabannya, Fitri tak bisa berkata apa-apa ia merasa ada hal yang kosong dihatinya. Mereka bercengkrama mengenai bagaimana mereka bisa bertemu, masa ta’aruf, ketika menikah, ketika merawat Abdul saat kecil,dan masih banyak lagi hal yang mereka ceritakan. Tapi, ketika bercerita Farid melihat keatas,terkadang pandangannya lurus, sesekali ia menjatuhkan air mata, tapi tak jarang pula ia mengulas senyuman halus diwajahnya. Tiba-tiba ia berkata

“aku sngat mencintaimu dan keluargamu tanpa terkecuali,aku meminangmu dan mengarungi bahtera pernikahan hingga Allah menitipkan kita dua malaikat kecil yang tampan, malaikat yang keduanya sangat mirip dengan kita. Seandainya bila waktu dapat ku ubah Fit, aku ingin mengulang kisah yang pernah ada. Kisah dimana aku belum menunaikan kewajibanku sebagai anak,suami, dan ayah.”

“kita sudah sampai sejauh ini mas, manis pahit sudah kita lalui. Ini semua sudah menjadi scenario yang diatas. Kita hanya menjalankan. Tak usah menyesali yang sudah terjadi, yang lalu biarlah sudah. Jika kita selalu berandai-andai artinya kita tak mensyukuri apa yang terjadi saat ini.” kata Fitri penuh dengan air mata.

“carilah aku di surga, bawalah anak-anak serta denganmu.” Ucap Farid.

Dan akhirnya Farid menghembuskan nafas terakhirnya. Fitri menangis sejadi-jadinya, ia belum bisa melepas suaminya. Yang ia tahu ia hanya ingin menangis,sementara hatinya terasa hampa. Farid  bertahan melawan penyakitnya selama 1 tahun. Selama itu ia ditemani seorang perempuan sholihah, anak yang berbakti, adik yang penurut, istri yang hebat, ibu yang luar biasa yaitu istrinya Fitri. Fitri mengajarkan kita akan kesabaran, tetap bersyukur, tak pernah hilang harapan kepada Rabb-Nya, dan tetap menjalani apapun yang terjadi dikehidupan ini dengan ikhlas.

evaf-cakep-indonesiaPenulis adalah Duta Cakep Madiun yang di tahun 2016 ini duduk di kelas X SMA N 1 Geger, Madiun. Nama lengkapnya Evaf Alfayani lahir di Madiun tanggal 9 September tahun 2000.

Share this Post!

About the Author : Admin Cakep


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

  TOP